Dalam Pencarian

Sebuah Catatan Tanpa Makna

Monday, May 14, 2007

Sunday, May 13, 2007

Yang Beruntung di Tanah Rantau

"Morning... morning Sir... morning Miss...." Ucapan itu terus berulang keluar dari mulut Jon, 28 tahun, dan Soleh, 23 tahun, setiap kali ada turis asing melintas. Sesekali tangan mereka menunjuk ke arah produk-produk yang terpajang. Entah itu jam tangan, kacamata, T-shirt, tas, atau celana pantai.

Begitulah cara mereka mencoba memikat para pelancong asing. Beberapa turis tampak membalas sapaan mereka dengan ucapan serupa. Beberapa lainnya menghentikan langkah, lalu melihat-lihat produk yang ditawarkan. Jon dan Soleh pun tak melewatkan kesempatan itu.

"This is good," ujar mereka bersemangat, diiringi harapan para turis bule itu mau merogoh kocek untuk barang yang mereka tawarkan. Jon menyodorkan sebuah tas jinjing merek Louis Vuiton, yang kemudian dibeli seorang pelancong asal Australia.

Jon dan Soleh boleh dibilang potret kebanyakan orang Raas yang mengadu untung di kawasan Pantai Kuta, Bali. Untuk sementara ini, keduanya memang tidak mengelola usaha sendiri. Mereka masih bekerja untuk Haji Mahali, pemilik toko di Jalan Pantai Kuta itu, yang juga berasal dari Pulau Raas, Madura.

Kuta merupakan satu dari tiga tempat tujuan para perantau asal Raas sejak puluhan tahun silam. Di kawasan itu, seperti dilakoni Haji Mahali, kebanyakan mereka membuka usaha artshop. Produk khas yang ditawarkan adalah beragam barang bermerek terkenal yang dipalsukan. Ada arloji Rolex, Seiko, Tag Heuer, Diesel, hingga Paul Frank. Ada juga aksesori merek Billabong dan Quicksilver hingga tas jinjing Louis Vuiton seperti yang dijajakan Jon tadi.

Yang cukup mengherankan adalah sikap para turis asing itu. Mereka seperti tidak peduli soal keaslian barang yang mereka beli. "Mereka tahu, kok, ini palsu. Mereka tetap menyukainya, terutama para wisatawan dari Australia," ujar Haji Mahali.

Sebelum menjadi bos, Mahali sendiri harus menapaki pengalaman seperti yang dialami anak buahnya, Jon dan Soleh. Pertama kali menjejakkan kaki di Bali sekitar 15 tahun silam, ia bertolak dari kampungnya, Alas Malang, Pulau Raas, dengan bekal seadanya. Tujuannya satu: mencari pekerjaan dan ingin meniru sukses yang diraih para perantau Raas yang sudah mendahuluinya berkiprah di Bali. "Waktu itu, umur saya baru 20 tahun," katanya mengenang.

Di Bali, ia langsung bergabung dengan komunitas Raas yang tinggal di kawasan Kuta. Ia mendapati banyak orang Raas menjadi pedagang asongan jam tangan palsu di situ. Ia pun memutuskan ikut ngacung (menjadi pedagang asongan) bersama teman-temannya. Mahali memulai usahanya dengan bantuan modal sesama perantau Raas. "Separo modal saya waktu itu bantuan dari teman-teman," ujarnya.

Rupanya, memang begitulah awalnya cara kebanyakan perantau Raas meraih sukses di Kuta. Ikatan emosional sebagai sesama warga Raas, plus rasa saling percaya, menjadi modal utama memulai usaha di negeri orang. "Enggak ada perjanjian khusus untuk pinjam barang. Pokoknya, kalau ada yang laku, saya kasih dia uang seadanya. Terserah kita," katanya lagi.

Beruntung, hanya dalam hitungan beberapa pekan, Mahali sudah bisa memodali usahanya sendiri. Penghasilan bersihnya ketika itu bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari. Dari hasil ngacung inilah ia kemudian bisa menunaikan ibadah haji pada 1999.

Namun tonggak terpenting dalam kemajuan usahanya dimulai sejak tahun 2000, justru setelah ia berhadapan dengan kendala besar. Para pengacung yang beroperasi di Kuta diharuskan memiliki kartu anggota Persatuan Pedagang Suvenir Kuta (PPSK). Gara-gara tak punya kartu anggota, ia bersama seorang rekannya berhenti mengacung. Sebagai gantinya, mereka menyewa sebuah toko di Jalan Pantai Kuta.

Sewanya terhitung mahal ketika itu, Rp 30 juta per tahun. Mereka pun harus menyewa toko berukuran 3 x 3 meter itu minimal selama tiga tahun. Harga sewa itu, menurut Mahali, dulu tidak begitu berat. Sebab omsetnya masih lumayan gede. "Dulu, kalau pas ramai, mencari Rp 30 juta satu bulan, sih, gampang," tuturnya.

Malang bagi Mahali dan kawan-kawan. Setelah peristiwa bom Bali, omset mereka menurun drastis. Apalagi, harga sewa toko kini sudah naik lebih dari dua kali lipatnya, yakni Rp 70 juta. Usaha mereka terasa berat walau masih tetap menyisakan sedikit keuntungan. "Sekarang dapat lima ratus sampai tujuh ratus ribu saja sudah lumayan," katanya.

Mahali bukan satu-satunya orang Raas yang beruntung merintis usaha dari nol. Ada juga nama Haji Eno, yang memilih berbisnis barang kerajinan. Dari "markasnya" yang berukuran hanya 3 x 3 meter di Gang Lestari, Jimbaran, ia memutar roda bisnis beromset ratusan juta rupiah. Maklum, barang kerajinan yang jadi andalan bisnisnya sudah merambah ke mancanegara. "Barusan saya kirim barang ke Amerika. Nilainya sampai Rp 280 juta," ujar bapak dua anak itu.

Bisnis utama Haji Eno adalah menyalurkan kerajinan bikinan 50 orang warga Raas. Selama ini, ia banyak mendapat pesanan dari Malaysia, Thailand, Taiwan, Amerika, Denmark, bahkan Spanyol. Sebuah laptop, lengkap dengan modem yang tersambung ke saluran telepon, jadi andalannya untuk menggaet pembeli dari mancanegara.

Bila menyimak latar belakangnya dahulu, mungkin banyak orang yang tak akan percaya Haji Eno ternyata bisa sukses berbisnis. Maklum, alih-alih bahasa Inggris, bahasa Indonesia saja ia dulu tidak fasih. Banyak sekali kata bahasa Indonesia yang tidak dipahaminya. "Saya dulu memang tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali," katanya.

Haji Eno terhitung nekat ketika mengambil keputusan merantau. Bertolak dari Alas Malang dengan tujuan Bali pada 1988 tanpa modal kepandaian secuil pun. Maklumlah, ia hanya mengenyam pendidikan hingga kelas II sekolah dasar. "Awalnya saya ingin cari pengalaman di Bali supaya bisa adu pikiran dengan orang asing," katanya lagi.

Sampai di Bali, jelas tidak mudah bagi dia untuk mendapatkan pekerjaan karena kendala bahasa. Titik terang didapatnya setelah bertemu komunitas Raas yang tinggal di Jimbaran. Ia mulai bekerja sebagai perajin. Di sinilah ia sedikit demi sedikit belajar bahasa Indonesia.

Sejalan dengan itu, ia merasa tertantang mendekati orang-orang asing yang dilihatnya banyak berkeliaran. Walhasil, di sela-sela waktunya menggarap kerajinan tempel, Eno mengikuti jejak banyak rekan sebayanya yang ngacung di Pantai Kuta sambil belajar bahasa Inggris. "Biar bisa komunikasi sama bule. Saya ingin adu pemikiran sama mereka," ujar Eno.

Dewi keberuntungan ternyata segera menghampirinya, walau ia belum fasih benar berbahasa Inggris. Seorang warga Swiss yang membuka usaha di Bali mempercayakan pengelolaan usahanya kepada Eno. Kepercayaan serupa ia dapatkan dari seorang warga Italia, sampai akhirnya Eno merintis usaha perniagaan barang kerajinan sendiri pada 1994. "Saya bersyukur sekali usaha ini berkembang," katanya.

Mahali dan Eno barulah dua pengusaha asal Raas yang sukses di Bali. Di kawasan Kuta, masih ada puluhan pengusaha Raas lainnya yang membuka artshop. Demikian pula di Gang Lestari, Jimbaran, masih terdapat puluhan pengusaha yang mengadu untung di bisnis kerajinan seperti Eno. Sukses yang mereka gapai inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Pulau Raas untuk berbondong-bondong ke Pulau Dewata.

Erwin Y. Salim dan Komang Erviani
[Ragam, Gatra Nomor 25 Beredar Kamis, 3 Mei 2007]

Friday, May 04, 2007



Dana Sehat Si Miskin Diembat


Dana asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin, ditilep oknum pegawai Rumah Sakit Sanglah. Nilainya mencapai Rp 2,3 miliar. Rumah Sakit Sanglah dan PT. Askes, tiba-tiba saling menyalahkan.Diduga ada konspirasi.

Ketika mengecek pembayaran klaim asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin) yang ditransfer PT. Askes ke rekening Rumah Sakit Sanglah, 23 April lalu, Drs I Ketut Nadra MM terkejut. Laporan Askes yang menyebut telah melakukan transfer sebesar 6,7 miliar, tidak ditemukan dalam rekening Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali bernomor 002343-7 atas nama RS Sanglah. Direktur Keuangan Rumah Sakit Sanglah itu hanya menemukan dana sebesar Rp 6,4 miliar. Selisih Rp 300 juta, mengundang tanda tanya besar di benak Nadra.

Dalam kondisi panik, Nadra langsung mendatangi PT. Askes Kantor Cabang Denpasar guna mempertanyakan kebenaran nilai transfer. “Waktu itu saya tanya, kok transfer cuma Rp 6,4 miliar?” cerita Nadra. Di luar dugaan, pihak Askes yang ketika itu diwakili langsung oleh Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, bersikeras telah mentransfer Rp 6,7 miliar. “Ibu Mas bilang, dana Rp 6,7 miliar sudah ditransfer ke rekening Sanglah. Coba dicek ke rekening yang satu lagi,” terang Nadra meniru pernyataan Aryanthi.

Nadra mengaku kaget luar biasa ketika itu. Pasalnya, selama ini Rumah Sakit Sanglah hanya memiliki satu rekening di BPD Bali. Rekening resmi atas nama Rumah Sakit Sanglah itu bahkan dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan, sesuai aturan perundang-undangan. Namun pihak Askes justru menyebut keberadaan sebuah rekening lain di BNI 46, yang diklaim sebagai rekening resmi milik Sanglah. Pihak Askes mengaku selalu mentransfer dana klaim Askes Maskin ke dua rekening tersebut, yakni rekening resmi di BPD Bali dan BNI 46.

Setelah dicek, ternyata rekening BNI 46 bernomor 97423728 tersebut dibuka atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. IGA Maryani adalah petugas entry data masyarakat miskin di Rumah Sakit Sanglah. Keberadaan satu rekening tak dikenal yang mengatasnamakan Rumah Sakit Sanglah, membuat kaget. “Saya bilang ke Askes, ini rekening siapa? Yang saya tahu, Sanglah hanya punya satu rekening,” cerita Nadra.

Ternyata, ini bukan kali pertama PT. Askes mentransfer dana klaim Askes Maskin ke rekening BNI 46. Sejak dibuka pada Februari 2006, rekening pribadi milik oknum pegawai Sanglah itu sudah menerima 12 kali transferan dari PT. Askes. Nilainya pun tak tanggung, mencapai lebih dari Rp 2,3 miliar. Transfer dilakukan antara 5 April 2006 hingga 20 April 2007 atas pembayaran klaim dana Askes Maskin Februari 2006 hingga Januari 2007. Namun dana yang tersisa di dalam rekening, hanya Rp 2 juta.

Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, beralasan transfer ke rekening BNI 46 dilakukan atas dasar kepercayaan yang tinggi terhadap pegawai IGA Maryani, yang telah lama menjadi contact person RS Sanglah di PT. Askes. Menurut Mas, IGA Maryani mengajukan satu rekening baru di BNI 46 pada Februari 2006. “Dia (IGA Maryani) bilang ke saya, Rumah Sakit Sanglah punya rekening baru di BNI 46. Tolong transfer klaim maskin tiap bulannya, displit sebagian ke rekening baru ini. Karena kami sudah percaya dengan dia, ya kami selalu transfer sebagian ke rekening BNI,” terang Mas.

IGA Maryani sendiri, menurut Nadra, telah mengakui perbuatannya. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani pegawai yang bekerja di RS Sanglah sejak tahun 1995 sebagai honorer dan baru diangkat sebagai pegwai negeri sipil (PNS) tahun 1997 itu. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani 26 April tersebut, Maryani mengakui telah menerima transfer dana dan menyatakan akan menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Anehnya, dalam surat pernyataan juga disebutkan bahwa pihaknya tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes.

Tim kuasa hukum IGA Maryani, I Ketut Gede Suarnatha, SH,MH dan R. Teddy Raharjo,SH, mempertanyakan keabsahan surat pernyataan kliennya itu. “Untuk apa ada poin tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes ?” Teddy heran. Menurut Teddy, kliennya terpaksa menandatangani surat pernyataan itu karena berada di bawah tekanan pihak Askes dan RS Sanglah. Yang juga ganjil, keesokan harinya pihak RS Sanglah kembali meminta IGA Maryani menandatangani surat pernyataan serupa. Bedanya, poin ketiga diganti dengan pernyataan “tidak akan melibatkan karyawan RS Sanglah”.

Baik Teddy maupun Suarnatha, menduga ada konspirasi besar dibalik penuduhan terhadap kliennya. Menurut Suarnatha, kliennya yang saat ini dinon-jobkan tidak pernah merasa membuka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. Karenanya, Maryani tak pernah tahu ke mana dana yang pernah mampir ke rekening atas namanya itu. Maryani memang memiliki tiga rekening atas nama dirinya di BNI 46. dua rekening digunakan untuk tabungan kedua anaknya, sementara satu rekenig untuk menerima gaji dari RS Sanglah. “Semua rekeningnya atas nama IGA Maryani. Dia tidak pernah buka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” tegas Suarnatha.

Yang tak kalah aneh, menurut Teddy, Maryani tiba-tiba menemukan buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah di dalam tasnya, tepat ketika ia dituduh menyelewengkan dana. “Waktu itu Ibu Maryani diminta mengeluarkan buku tabungan dari tasnya. Karena merasa tak bersalah, dia langsung mengambil buku tabungan BNI yang memang ada di tasnya. Ia sendiri kaget karena ternyata di tasnya ada buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” terang Teddy. Dari sana, dugaan adanya konspirasi besar di balik kasus itu, makin menguat. Ia menduga ada upaya menutupi kesalahan seseorang atau beberapa orang kuat, dengan menjadikan kliennya sebagai tumbal. “Klien kami hanya bertugas sebagai staf entry data. Dia mengaku tidak pernah ke Askes. Lagi pula, yang aneh, kenapa setelah satu tahun baru diketahui? Apa selama ini Sanglah tidak pernah merasa ada dana transfer yang kurang?” tandas Teddy.

Pihak PT. Askes dengan RS Sanglah sendiri, terkesan saling menyalahkan atas kasus ini. Rumah Sakit Sanglah menilai PT. Askes gegabah mentransfer dana ke rekening pribadi. Sementara Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, justru balik mempertanyakan sikap RS Sanglah yang baru mempertanyakan setelah berjalan satu tahun. “Kenapa baru sekarang dipertanyakan Selama ini, kok Sanglah tidak pernah menanyakan ada kekurangan transfer klaim?” tegas Erna, sembari mengaku selalu mengirimkan surat pemberitahuan dan copy bukti transfer dana kedua rekening ke rumah sakit Sanglah lewat jasa ekspedisi. Tapi, Kepala Satuan Pengendalian Intern (SPI) RS Sanglah, Ketut Rupini, membantah telah menerima surat pemberitahuan dan bukti transfer. “Yang jelas, kami tidak pernah terima surat pemberitahuan dan bukti transfer. Kami tidak tahu apakah yang bersangkutan (IGA Maryani,red) juga yang menerima surat itu,” tandas Rupini. Anehnya, kekurangan dana transfer yang selama ini diterima Sanglah, menurut Rupini, langsung dibukukan sebagai piutang kepada PT. Askes.

Keganjilan pun tercium oleh anggota DPRD Bali. Anggota Fraksi PDIP, Made Arjaya, mengaku heran melihat sikap saling menyalahkan PT. Askes dan RS Sanglah. Sikap PT. Askes yang langsung mentransfer tanpa konfirmasi kepada pihak berwenang di RS Sanglah, dinilai sebagai tindakan gegabah. Sementara sikap RS Sanglah yang tidak mempertanyakan kekurangan transfer dan langsung membukukannya sebagai piutang, juga sesuatu yang aneh. Padahal di saat yang sama, Erna mengakui kalau Direktur Keuangan RS Sanglah, Ketut Nadra, seringkali datang ke PT. Askes. Ketika dipanggil anggota DPRD Bali untuk menjelaskan perihal kasus tersebut, Erna mengaku bahwa Nadra datang ke PT. Askes sekitar dua hingga tiga kali sebulan. Tidak itu saja, Nadra juga dikatakan sering menelpon ke PT. Askes. “Katanya antara RS Sanglah dan PT. Askes sering kontak. Kenapa hal seperti ini bisa jalan sampai satu tahun,” keluhnya.

Yang tak kalah ganjil, baik pihak PT. Askes maupun RS Sanglah, tidak berupaya mengusut masalah ini secara hukum. RS Sanglah beralasan, pihak PT.Askes lah yang seharusnya melapor secara hukum. "Kalau dilihat persoalannya pihak PT Askes seharusnya yang memperkarakan (melaporkan IGA MA, Red)," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Sanglah, dr I Gusti Lanang M Rudiartha MHA. Sementara pihak PT. Askes mengaku masih akan mempelajari kasus ini.

Meski demikian, pihak Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI langsung menurunkan tim pemeriksanya setelah mendengar kasus ini. Tim yang diketuai Inspektor IV I Gusti Gde Djestawana, SKM, M.Kes tersebut, langsung mengorek keterangan para pegawai rumah sakit dan memeriksa dokumen-dokumen maskin selama periode April 2006 hingga April 2007. Tim yang terdiri atas lima orang itu, rencananya akan melakukan pemeriksaan selama enam hari, untuk mencari kebenaran atas dugaan penyelewengan dana bagi masyarakat miskin itu.

Selain itu, meski tak mendapat laporan resmi, pihak Kejaksaan Tinggi Bali menyatakan tetap akan mengusut kasus ini. Senin, 7 Mei, pihak Kejati Bali memanggil IGA Mayani untuk dimintai keterangan. Penyelesaian kasus secara hukum, menjadi penting. Apalagi dana yang digelapkan adalah dana kesehatan bagi masyarakat miskin. [Komang Erviani]





Transfer Klaim Askesin ke Rekening IGAM

TGL TRANSFER NOMINAL UNTUK PEMBAYARAN KLAIM
5 April 2006 Rp. 177.580.500 Februari 2006
18 Mei 2006 Rp. 250.000.000 Maret 2006
7 Juni 2006 Rp. 150.000.000 Juni 2006
26 Juni 2006 Rp. 300.000.000 April 2006
21 Juli 2006 Rp. 150.000.000 Mei 2006
28 Agustus 2006 Rp. 227.000.000 Juni 2006
28 September 2006 Rp. 200.000.000 Juli 2006
2 November 2006 Rp. 100.441.500 Agustus 2006
24 November 2006 Rp. 137.597.500 September 2006
18 Desember 2006 Rp. 125.000.000 Oktober 2006
22 Maret 2007 Rp. 250.000.000 Desember 2006
20 April 2007 Rp. 280.311.428 Januari 2007
TOTAL Rp. 2.347.930.928


-------------------------------------------------------------------------------


Penyelamat yang Membuat Sekat

Komang Sujana, terus merengek di gendongan ibunya, Luh Murni, 23 tahun. Selang infus yang menempel di tangan kanannya, membuat bocah dua tahun empat bulan itu tampak gelisah kesakitan. Mata kanannya terbalut kapas dan perban.

Sudah hampir setahun, Komang tiba-tiba menjadi sangat akrab dengan Sal Anak Kelas III Jempiring, Rumah Sakit Sanglah. Bersama lima pasien anak lain di ruang yang hanya seluas 5 x 3 meter itu, Sujana kini harus menghabiskan sebagian besar harinya.

Sejak dinyatakan mengidap tumor ganas pada mata, Sujana wajib berobat rutin ke Rumah Sakit Sanglah. Awalnya, ia bahkan harus dirawat selama dua bulan penuh. Namun kini, ia hanya perlu menghabiskan empat hari tiap minggunya, untuk tinggal di rumah sakit. Itu karena Sujana harus menjalani kemotherapi untuk mengobati tumor di kedua matanya yang kini sudah tak berfungsi lagi.

Luh Murni dan suaminya Gde Nyeneng, 21 tahun, bahkan harus pindah dari tempat asalnya di Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem ke Denpasar, demi mempermudah akses pengobatan Komang. Awalnya, Luh Murni mengaku tak tahu harus melakukan apa pada mata Komang. Keterbatasan biaya, sempat membuatnya hanya mengobati Komang ke dukun di desa.

Namun setelah tahu ada fasilitas asuransi kesehatan bagi masyaakat miskin, Luh Murni seperti mendapat angin segar. Ia kini tak perlu mengeluarkan dana sepeser pun untuk mendapat layanan kesehatan. “Semuanya gratis,” terang Murni. Penghasilan suaminya yang tak menentu sebagai sopir angkot di Denpasar, dipastikan tak akan mampu membiayai pengobatan sang anak. “Syukur juga ada layanan gratis. Kalau nggak, cari di mana? Bapaknya kadang-kadang dapat uang, kadang nggak. Malah sering norok karena penumpang sepi,” ujar ibu tiga anak itu.

Luh Murni termasuk beruntung, karena tak pernah merasa dianaktirikan pihak rumah sakit. Tapi jamak terdengar, ada keluhan dari masyarakat miskin atas layanan yang tak memuaskan bagi mereka. Komang Ane, termasuk salah satu yang pernah mengalaminya. Ketika ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat inap, perawat rumah sakit tiba-tiba bersikap tak ramah saat tahu ia menggunakan kartu miskin. Ia bahkan harus menghuni lorong rumah sakit, untuk mendapatkan kamar di kelas III. Pria asal Buleleng itu, tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima perlakuan kasar dari perawat di Rumah Sakit Sanglah itu.

Pasien miskin asal Gerokgak Buleleng, Made Suparja, 50 tahun, juga sempat merasakan sikap tak mengenakkan hanya gara-gara ia mengunakan asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin). Itu dirasakannya ketika mencari hendak mencari ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Singaraja. “Istilahnya, kalau pakai kartu miskin, nggak ada kamar. Tapi kalau pakai duit, ada kamar,” keluhnya.

Namun Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, membantah adanya kecenderungan itu. Menurutnya, ia selalu melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit agar memberi pelayanan terbaik, termasuk bagi pasien miskin. Pihak rumah sakit pun mengaku selalu mencoba memberi layanan terbaiknya. Dirut RS Sanglah dr. Lanang M. Rudhiarta, menyatakan selalu berupaya memberi yang terbaik bagi semua pasien, tak terkecuali pasien miskin. Disebutkan Lanang, RS Sanglah kini memiliki 677 tempat tidur yang 40 persennya diperuntukkan bagi pasien maskin.

Berdasarkan data PT. Askes Regional Bali, NTB, dan NTT, selama tahun 2006 terdapat sedikitnya 548.357 jiwa penduduk Bali yang memegang kartu Askes Maskin. “Kami selalu berupaya memberi layanan terbaik,” tegas Erna. [Komang Erviani]

Dana Sehat Si Miskin Diembat

Dana asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin, ditilep oknum pegawai Rumah Sakit Sanglah. Nilainya mencapai Rp 2,3 miliar. Rumah Sakit Sanglah dan PT. Askes, tiba-tiba saling menyalahkan.Diduga ada konspirasi.

Ketika mengecek pembayaran klaim asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin) yang ditransfer PT. Askes ke rekening Rumah Sakit Sanglah, 23 April lalu, Drs I Ketut Nadra MM terkejut. Laporan Askes yang menyebut telah melakukan transfer sebesar 6,7 miliar, tidak ditemukan dalam rekening Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali bernomor 002343-7 atas nama RS Sanglah. Direktur Keuangan Rumah Sakit Sanglah itu hanya menemukan dana sebesar Rp 6,4 miliar. Selisih Rp 300 juta, mengundang tanda tanya besar di benak Nadra.

Dalam kondisi panik, Nadra langsung mendatangi PT. Askes Kantor Cabang Denpasar guna mempertanyakan kebenaran nilai transfer. “Waktu itu saya tanya, kok transfer cuma Rp 6,4 miliar?” cerita Nadra. Di luar dugaan, pihak Askes yang ketika itu diwakili langsung oleh Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, bersikeras telah mentransfer Rp 6,7 miliar. “Ibu Mas bilang, dana Rp 6,7 miliar sudah ditransfer ke rekening Sanglah. Coba dicek ke rekening yang satu lagi,” terang Nadra meniru pernyataan Aryanthi.

Nadra mengaku kaget luar biasa ketika itu. Pasalnya, selama ini Rumah Sakit Sanglah hanya memiliki satu rekening di BPD Bali. Rekening resmi atas nama Rumah Sakit Sanglah itu bahkan dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan, sesuai aturan perundang-undangan. Namun pihak Askes justru menyebut keberadaan sebuah rekening lain di BNI 46, yang diklaim sebagai rekening resmi milik Sanglah. Pihak Askes mengaku selalu mentransfer dana klaim Askes Maskin ke dua rekening tersebut, yakni rekening resmi di BPD Bali dan BNI 46.

Setelah dicek, ternyata rekening BNI 46 bernomor 97423728 tersebut dibuka atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. IGA Maryani adalah petugas entry data masyarakat miskin di Rumah Sakit Sanglah. Keberadaan satu rekening tak dikenal yang mengatasnamakan Rumah Sakit Sanglah, membuat kaget. “Saya bilang ke Askes, ini rekening siapa? Yang saya tahu, Sanglah hanya punya satu rekening,” cerita Nadra.

Ternyata, ini bukan kali pertama PT. Askes mentransfer dana klaim Askes Maskin ke rekening BNI 46. Sejak dibuka pada Februari 2006, rekening pribadi milik oknum pegawai Sanglah itu sudah menerima 12 kali transferan dari PT. Askes. Nilainya pun tak tanggung, mencapai lebih dari Rp 2,3 miliar. Transfer dilakukan antara 5 April 2006 hingga 20 April 2007 atas pembayaran klaim dana Askes Maskin Februari 2006 hingga Januari 2007. Namun dana yang tersisa di dalam rekening, hanya Rp 2 juta.

Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, beralasan transfer ke rekening BNI 46 dilakukan atas dasar kepercayaan yang tinggi terhadap pegawai IGA Maryani, yang telah lama menjadi contact person RS Sanglah di PT. Askes. Menurut Mas, IGA Maryani mengajukan satu rekening baru di BNI 46 pada Februari 2006. “Dia (IGA Maryani) bilang ke saya, Rumah Sakit Sanglah punya rekening baru di BNI 46. Tolong transfer klaim maskin tiap bulannya, displit sebagian ke rekening baru ini. Karena kami sudah percaya dengan dia, ya kami selalu transfer sebagian ke rekening BNI,” terang Mas.

IGA Maryani sendiri, menurut Nadra, telah mengakui perbuatannya. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani pegawai yang bekerja di RS Sanglah sejak tahun 1995 sebagai honorer dan baru diangkat sebagai pegwai negeri sipil (PNS) tahun 1997 itu. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani 26 April tersebut, Maryani mengakui telah menerima transfer dana dan menyatakan akan menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Anehnya, dalam surat pernyataan juga disebutkan bahwa pihaknya tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes.

Tim kuasa hukum IGA Maryani, I Ketut Gede Suarnatha, SH,MH dan R. Teddy Raharjo,SH, mempertanyakan keabsahan surat pernyataan kliennya itu. “Untuk apa ada poin tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes ?” Teddy heran. Menurut Teddy, kliennya terpaksa menandatangani surat pernyataan itu karena berada di bawah tekanan pihak Askes dan RS Sanglah. Yang juga ganjil, keesokan harinya pihak RS Sanglah kembali meminta IGA Maryani menandatangani surat pernyataan serupa. Bedanya, poin ketiga diganti dengan pernyataan “tidak akan melibatkan karyawan RS Sanglah”.

Baik Teddy maupun Suarnatha, menduga ada konspirasi besar dibalik penuduhan terhadap kliennya. Menurut Suarnatha, kliennya yang saat ini dinon-jobkan tidak pernah merasa membuka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. Karenanya, Maryani tak pernah tahu ke mana dana yang pernah mampir ke rekening atas namanya itu. Maryani memang memiliki tiga rekening atas nama dirinya di BNI 46. dua rekening digunakan untuk tabungan kedua anaknya, sementara satu rekenig untuk menerima gaji dari RS Sanglah. “Semua rekeningnya atas nama IGA Maryani. Dia tidak pernah buka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” tegas Suarnatha.

Yang tak kalah aneh, menurut Teddy, Maryani tiba-tiba menemukan buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah di dalam tasnya, tepat ketika ia dituduh menyelewengkan dana. “Waktu itu Ibu Maryani diminta mengeluarkan buku tabungan dari tasnya. Karena merasa tak bersalah, dia langsung mengambil buku tabungan BNI yang memang ada di tasnya. Ia sendiri kaget karena ternyata di tasnya ada buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” terang Teddy. Dari sana, dugaan adanya konspirasi besar di balik kasus itu, makin menguat. Ia menduga ada upaya menutupi kesalahan seseorang atau beberapa orang kuat, dengan menjadikan kliennya sebagai tumbal. “Klien kami hanya bertugas sebagai staf entry data. Dia mengaku tidak pernah ke Askes. Lagi pula, yang aneh, kenapa setelah satu tahun baru diketahui? Apa selama ini Sanglah tidak pernah merasa ada dana transfer yang kurang?” tandas Teddy.

Pihak PT. Askes dengan RS Sanglah sendiri, terkesan saling menyalahkan atas kasus ini. Rumah Sakit Sanglah menilai PT. Askes gegabah mentransfer dana ke rekening pribadi. Sementara Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, justru balik mempertanyakan sikap RS Sanglah yang baru mempertanyakan setelah berjalan satu tahun. “Kenapa baru sekarang dipertanyakan Selama ini, kok Sanglah tidak pernah menanyakan ada kekurangan transfer klaim?” tegas Erna, sembari mengaku selalu mengirimkan surat pemberitahuan dan copy bukti transfer dana kedua rekening ke rumah sakit Sanglah lewat jasa ekspedisi. Tapi, Kepala Satuan Pengendalian Intern (SPI) RS Sanglah, Ketut Rupini, membantah telah menerima surat pemberitahuan dan bukti transfer. “Yang jelas, kami tidak pernah terima surat pemberitahuan dan bukti transfer. Kami tidak tahu apakah yang bersangkutan (IGA Maryani,red) juga yang menerima surat itu,” tandas Rupini. Anehnya, kekurangan dana transfer yang selama ini diterima Sanglah, menurut Rupini, langsung dibukukan sebagai piutang kepada PT. Askes.

Keganjilan pun tercium oleh anggota DPRD Bali. Anggota Fraksi PDIP, Made Arjaya, mengaku heran melihat sikap saling menyalahkan PT. Askes dan RS Sanglah. Sikap PT. Askes yang langsung mentransfer tanpa konfirmasi kepada pihak berwenang di RS Sanglah, dinilai sebagai tindakan gegabah. Sementara sikap RS Sanglah yang tidak mempertanyakan kekurangan transfer dan langsung membukukannya sebagai piutang, juga sesuatu yang aneh. Padahal di saat yang sama, Erna mengakui kalau Direktur Keuangan RS Sanglah, Ketut Nadra, seringkali datang ke PT. Askes. Ketika dipanggil anggota DPRD Bali untuk menjelaskan perihal kasus tersebut, Erna mengaku bahwa Nadra datang ke PT. Askes sekitar dua hingga tiga kali sebulan. Tidak itu saja, Nadra juga dikatakan sering menelpon ke PT. Askes. “Katanya antara RS Sanglah dan PT. Askes sering kontak. Kenapa hal seperti ini bisa jalan sampai satu tahun,” keluhnya.

Yang tak kalah ganjil, baik pihak PT. Askes maupun RS Sanglah, tidak berupaya mengusut masalah ini secara hukum. RS Sanglah beralasan, pihak PT.Askes lah yang seharusnya melapor secara hukum. "Kalau dilihat persoalannya pihak PT Askes seharusnya yang memperkarakan (melaporkan IGA MA, Red)," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Sanglah, dr I Gusti Lanang M Rudiartha MHA. Sementara pihak PT. Askes mengaku masih akan mempelajari kasus ini.

Meski demikian, pihak Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI langsung menurunkan tim pemeriksanya setelah mendengar kasus ini. Tim yang diketuai Inspektor IV I Gusti Gde Djestawana, SKM, M.Kes tersebut, langsung mengorek keterangan para pegawai rumah sakit dan memeriksa dokumen-dokumen maskin selama periode April 2006 hingga April 2007. Tim yang terdiri atas lima orang itu, rencananya akan melakukan pemeriksaan selama enam hari, untuk mencari kebenaran atas dugaan penyelewengan dana bagi masyarakat miskin itu.

Selain itu, meski tak mendapat laporan resmi, pihak Kejaksaan Tinggi Bali menyatakan tetap akan mengusut kasus ini. Senin, 7 Mei, pihak Kejati Bali memanggil IGA Mayani untuk dimintai keterangan. Penyelesaian kasus secara hukum, menjadi penting. Apalagi dana yang digelapkan adalah dana kesehatan bagi masyarakat miskin. [Komang Erviani]





Transfer Klaim Askesin ke Rekening IGAM

TGL TRANSFER NOMINAL UNTUK PEMBAYARAN KLAIM
5 April 2006 Rp. 177.580.500 Februari 2006
18 Mei 2006 Rp. 250.000.000 Maret 2006
7 Juni 2006 Rp. 150.000.000 Juni 2006
26 Juni 2006 Rp. 300.000.000 April 2006
21 Juli 2006 Rp. 150.000.000 Mei 2006
28 Agustus 2006 Rp. 227.000.000 Juni 2006
28 September 2006 Rp. 200.000.000 Juli 2006
2 November 2006 Rp. 100.441.500 Agustus 2006
24 November 2006 Rp. 137.597.500 September 2006
18 Desember 2006 Rp. 125.000.000 Oktober 2006
22 Maret 2007 Rp. 250.000.000 Desember 2006
20 April 2007 Rp. 280.311.428 Januari 2007
TOTAL Rp. 2.347.930.928


-------------------------------------------------------------------------------


Penyelamat yang Membuat Sekat

Komang Sujana, terus merengek di gendongan ibunya, Luh Murni, 23 tahun. Selang infus yang menempel di tangan kanannya, membuat bocah dua tahun empat bulan itu tampak gelisah kesakitan. Mata kanannya terbalut kapas dan perban.

Sudah hampir setahun, Komang tiba-tiba menjadi sangat akrab dengan Sal Anak Kelas III Jempiring, Rumah Sakit Sanglah. Bersama lima pasien anak lain di ruang yang hanya seluas 5 x 3 meter itu, Sujana kini harus menghabiskan sebagian besar harinya.

Sejak dinyatakan mengidap tumor ganas pada mata, Sujana wajib berobat rutin ke Rumah Sakit Sanglah. Awalnya, ia bahkan harus dirawat selama dua bulan penuh. Namun kini, ia hanya perlu menghabiskan empat hari tiap minggunya, untuk tinggal di rumah sakit. Itu karena Sujana harus menjalani kemotherapi untuk mengobati tumor di kedua matanya yang kini sudah tak berfungsi lagi.

Luh Murni dan suaminya Gde Nyeneng, 21 tahun, bahkan harus pindah dari tempat asalnya di Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem ke Denpasar, demi mempermudah akses pengobatan Komang. Awalnya, Luh Murni mengaku tak tahu harus melakukan apa pada mata Komang. Keterbatasan biaya, sempat membuatnya hanya mengobati Komang ke dukun di desa.

Namun setelah tahu ada fasilitas asuransi kesehatan bagi masyaakat miskin, Luh Murni seperti mendapat angin segar. Ia kini tak perlu mengeluarkan dana sepeser pun untuk mendapat layanan kesehatan. “Semuanya gratis,” terang Murni. Penghasilan suaminya yang tak menentu sebagai sopir angkot di Denpasar, dipastikan tak akan mampu membiayai pengobatan sang anak. “Syukur juga ada layanan gratis. Kalau nggak, cari di mana? Bapaknya kadang-kadang dapat uang, kadang nggak. Malah sering norok karena penumpang sepi,” ujar ibu tiga anak itu.

Luh Murni termasuk beruntung, karena tak pernah merasa dianaktirikan pihak rumah sakit. Tapi jamak terdengar, ada keluhan dari masyarakat miskin atas layanan yang tak memuaskan bagi mereka. Komang Ane, termasuk salah satu yang pernah mengalaminya. Ketika ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat inap, perawat rumah sakit tiba-tiba bersikap tak ramah saat tahu ia menggunakan kartu miskin. Ia bahkan harus menghuni lorong rumah sakit, untuk mendapatkan kamar di kelas III. Pria asal Buleleng itu, tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima perlakuan kasar dari perawat di Rumah Sakit Sanglah itu.

Pasien miskin asal Gerokgak Buleleng, Made Suparja, 50 tahun, juga sempat merasakan sikap tak mengenakkan hanya gara-gara ia mengunakan asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin). Itu dirasakannya ketika mencari hendak mencari ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Singaraja. “Istilahnya, kalau pakai kartu miskin, nggak ada kamar. Tapi kalau pakai duit, ada kamar,” keluhnya.

Namun Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, membantah adanya kecenderungan itu. Menurutnya, ia selalu melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit agar memberi pelayanan terbaik, termasuk bagi pasien miskin. Pihak rumah sakit pun mengaku selalu mencoba memberi layanan terbaiknya. Dirut RS Sanglah dr. Lanang M. Rudhiarta, menyatakan selalu berupaya memberi yang terbaik bagi semua pasien, tak terkecuali pasien miskin. Disebutkan Lanang, RS Sanglah kini memiliki 677 tempat tidur yang 40 persennya diperuntukkan bagi pasien maskin.

Berdasarkan data PT. Askes Regional Bali, NTB, dan NTT, selama tahun 2006 terdapat sedikitnya 548.357 jiwa penduduk Bali yang memegang kartu Askes Maskin. “Kami selalu berupaya memberi layanan terbaik,” tegas Erna. [Komang Erviani]

Thursday, March 29, 2007

MEREKA MEMBUNUH TEMAN SENDIRI


Sejumlah anak buah kapal (ABK) melakukan perampasan terhadap kapal motor milik majikannya sendiri. Nahkoda kapal pun dibunuh. Ketika hendak menjual kapal di Thailand, Marine Police Phuket Thailand menangkap mereka karena melanggar perbatasan wilayah.

Supratno alias Yoyok, cuma menunduk ketika tim penyidik Kepolisian Perairan (Polair) Polda Bali menanyainya. Tak banyak kata yang keluar dari mulut pria asal Desa Sukolilo Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur itu. “Saya nggak tahu apa-apa. Saya cuma disuruh mbasmi (membasmi/membunuh),”dalih Yoyok. Membasmi pakai apa? “Pakai kampak,” jawab Yoyok pendek, langsung merunduk. Anak buah kapal (ABK) yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di Pelabuhan Benoa Bali itu, seperti trauma mengingat kejadian itu. Kejadian yang menjadikannya tersangka kasus pembunuhan berencana dan perampasan kapal dengan ancaman hukuman seumur hidup atau selama-lamanya dua puluh tahun penjara. Ancaman hukuman serupa juga dikenakan pada empat rekannya sesama ABK, yakni Masudi alias Basir, Bambang Wendi Bin Sanudi, Dwi Agus Gunadi, dan Supriyanto alias Nur (masih buron).

Mimpi buruk Yoyok dan rekan-rekannya, merupakan buah dari kejahatan yang dilakukannya. Kejadian tersebut bermula ketika Yoyok bersama sembilan orang temannya sesama ABK dan seorang nahkoda, berangkat untuk mencari ikan dari Pelabuhan Benoa Bali dengan Kapal Motor Sanjaya 08. Kapal milik PT. Sentral Benoa Utama itu, memang rutin melakukan pencarian ikan tuna untuk diekspor. Ketika berangkat pada tanggal 16 Desember 2006 menuju fishing ground, terdapat 11 orang nahkoda dan ABK yang tercatat ikut serta dalam pelayaran. Diantaranya Bantan alias Hazim (nahkoda), Hariyanto Luis, Gusti, Syamsul, Dwi Agus Gunadi, Markus Kang Buaya, Herman, Bambang Wihandi bin Sunadi, Supriyanto, M Nur Khosim, Sudiharto, Supratno, Ahmad Rohman, Masudi, dan Nurno Supriyanto alias Nur.


Setelah dua bulan lebih di lautan, pada 28 Februari 2007 pihak PT. Sentral Benoa Utama tiba-tiba kehilangan kontak dengan kapal berkekuatan 138 gross ton dengan mesin Nissan 370 pk tersebut. Pihak perusahaan lantas melaporkan kehilangan itu pada petugas Polair Polda Bali pada 2 Maret 2007 dengan surat bernomor 19/P/SBU/III/2007. Mendapat laporan kehilangan, Direktur Polair Polda Bali, AKBP Oka Eswara Chandrana, langsung menghubungi tentang kehilangan ini pada semua Polair di Indonesia. Namun, hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan Kapal Sanjaya 08 beserta awaknya. Baru pada 14 Maret 2007, Polair Polda Bali mendapat sebuah telex dari Marine Police Provinsi Phuket Thailand yang mengabarkan temuan satu unit kapal motor dengan dokumen dan ciri-ciri fisik yang tidak sama. Rupanya, ketika merapat di Thailand, KM Sanjaya 08 sudah berganti nama menjadi Medan Jaya Jakarta. Nahkodanya yang dalam dokumen bernama Bantan, pun tak ditemukan di dalam kapal. Cat kapal yang semula biru kombinasi merah, menjadi didominasi warna merah. Kecurigaan Marine Police Phuket Thailand yang awalnya hanya menangkap kapal karena melewati perbatasan ngara tanpa izin, makin besar ketika hanya ditemukan 11 orang ABK dari 15 orang yang tercatat. Empat nama, masing-masing Bantan (nahkoda), Syamsul, Markus Kang Buaya, dan Nurno Supriyanto, hilang. Dari sana, teka teki hilangnya KM sanjaya 08 mulai terkuak. “Saya langsung minta pemilik kapal untuk melihat langsung kondisi kapal di Thailand. Untuk memastikan apakah itu benar kapal mereka atau tidak,” seru Oka Eswara. Dari sana dipastikan, KM Medan Jaya Jakarta memang adalah KM Sanjaya 08.

Komunikasi langsung dijalin Polair Polda Bali dengan Marine Police Provinsi Phuket Thailand. Hasilnya, kepolisian air di Phuket Thailand itu membantu mendeportasi ke kesebelas ABK ke Indonesia. Kamis sore pekan lalu, pesawat Malaysia Airways yang membawa mereka, mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Ia langsung dijemput Dir Polair Polda Bali beserta tim penyidik Polair dengan truk polisi. Penyidikan pun dilaksanakan secara estafet terhadap kesebelas ABK tersebut. Dari sana terungkap, KM Sanjaya 08 telah dirampas dan akan dijual di Thailand.

Awalnya, Polair menduga keempat orang yang hilang di dalam kapal, telah dibunuh oleh kesebelas ABK. Namun penyidikan beberapa hari mengungkap kenyataan lain. Rupanya, hanya nahkoda kapal Bantan yang telah dibunuh di tengah laut. Ini diduga karena Bantan menyatakan tak setuju dengan rencana merampas kapal dan menjualnya di Thailand. Ketika itu, 27 Februari 2007, sekitar pukul 05.30 dinihari, nahkoda Bantan yang tengah tidur nyenyak dengan posisi tertelungkup dipukul dengan kampak oleh tersangka Bambang Wendi bin Sanusi. Supratno lantas menyusul dengan memberikan tiga tusukan pisau di pinggang kiri Bantan. Seketika itu juga, Bantan tewas. Bersama Dwi Agus Sunadi yang ketika itu bertugas mengambil alih kendali, Supratno dan Bambang lantas menggulung mayat Bantan dalam kasur, dan membuangnya di Perairan Aceh Selatan. Satu orang lainnya, bernama Masadi, bertugas menjagai ABK lain yang sedang tidur. Mereka ingin memastikan, ABK lain tidak melihat kejadian itu.

Ahmad Rohman, salah seorang ABK, secara tidak sengaja sempat melihat langsung kejadian tersebut. “Waktu itu saya sedang nggak bisa tidur. Jadi saya jalan-ajalan aja,” kenang Rohman saat ditemui di Polair Polda Bali. Gara-gara ketahuan melihat kejadian itu, Masadi menyiramkan air panas ke punggung Rohman. “Waktu itu diancam. Nggak berani dah kalau pas di tengah laut begitu,” terangnya.

Paska pembunuhan itu, mereka langsung mengalihkan perjalanan menuju Thailand untuk menjual kapal beserta hasil tangkapan ikannya. Ketika itu pula, kontak dengan PT. Sentral Benoa Utama terputus. Salah seorang ABK lain, Nur Khosim, sempat mengaku heran ketika arah kapal tidak sesuai rencana. Selain itu, ketika pangun pagi itu ia juga tak melihat keberadaan Bantan. “Saya sempat nanya-nanya. Tapi mereka (para tersangka) bilang nggak tahu,” ujar pria 21 tahun tersebut. Malah, Nurkhosim mendapat bentakan dari tersangka. “Katanya, nggak usah tanya-tanya,” ceritanya. Karena sadar tengah berada di tengah laut, Nurkhosim tidak berani lagi melakukan apa-apa. Juga beberapa rekan ABK lainnya. “Akhirnya kita ngikut aja. Suasananya sudah nggak enak. Semuanya diem-dieman. Nggak ada yang ngobrol-ngobrol kayak sebelumnya,” cerita Nurkhosim.

Ketika hendak merapat di Pelabuhan Phuket Thailand, Nurno Supriyanto yang diduga sebagai otak dari perampasan kapal dan pembunuhan tersebut, meminta izin untuk merapat duluan untuk menelepon. Diperkirakan, Nurno akan mencari pembeli kapal beserta tangkapan mereka. Saat turun dengan sampan, Nurno ditemani Syamsul, dan Markus Kang Buaya. Namun ketiganya tak pernah kembali ke kapal sampai Marine Police Phuket Thailand menangkap kapal atas tuduhan melanggar perbatasan. Nurno dan dua rekannya yang diperkirakan tidak tahu menahu dengan pembunuhan dan perampasan kapal, tidak berani kembali ke kapal paska penangkapan.

“Setelah ditangkap, kita sempat diperiksa di dalam kapal selama tiga hari. Setelah itu, menginap tiga hari di kantor polisi sana,” cerita Nurkhosim. Atas bantuan Konsulat RI di Thailand, kesebelas ABK akhirnya dideportasi ke Bali. “Kita nggak ikut-ikutan mbak. Kita juga diancam,” terang Nurkhosim, diiyakan enam rekannya yang lain. Tim penyidik yang dipimpin Kasi Bin Gakkum AKP I Gusti Ngurah Arbawa, hingga saat ini baru menetapkan lima tersangka. Diantaranya Nurno Supriyanto yang hingga kini menjadi DPO sebagai otak pelaku, Masudi sebagai pengawas ABK lainnya yang saat kejadian sedang tidur, Supratno dan Bambang Wendi sebagai algojo pembunuh Bantan, serta Dwi Agus Gunadi yang mengambil alih kendali kapal dan membantu membuang mayat Bantan ke Perairan Aceh. “Sampai saat ini, kami masih melakukan penyidikan secara lebih intensif. Ini belum hasil final,” ungkap Arbawa. Hingga kini, Polair masih mencari keberadaan Nurno dan dua ABK lainnya dengan bantuan polisi Thailand.

Nurkhosim, Rohman, dan beberapa rekannya, mengaku senang telah lepas dari ancaman para tersangka. Belasan hari berada di bawah ancaman di tengah lautan, bagi mereka bukanlah hal mudah untuk dihadapi. “Agak khawatir juga kalau mau melaut lagi. Tapi gimana lagi…,” ujar Nur Khosim sambil menerawang. Kondisi ekonomi yang pas-pasan, memaksa pria asal Jawa Timur ini untuk tetap melakukan pekerjaannya. [Komang Erviani]

MEREKA MEMBUNUH TEMAN SENDIRI


Sejumlah anak buah kapal (ABK) melakukan perampasan terhadap kapal motor milik majikannya sendiri. Nahkoda kapal pun dibunuh. Ketika hendak menjual kapal di Thailand, Marine Police Phuket Thailand menangkap mereka karena melanggar perbatasan wilayah.

Supratno alias Yoyok, cuma menunduk ketika tim penyidik Kepolisian Perairan (Polair) Polda Bali menanyainya. Tak banyak kata yang keluar dari mulut pria asal Desa Sukolilo Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur itu. “Saya nggak tahu apa-apa. Saya cuma disuruh mbasmi (membasmi/membunuh),”dalih Yoyok. Membasmi pakai apa? “Pakai kampak,” jawab Yoyok pendek, langsung merunduk. Anak buah kapal (ABK) yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di Pelabuhan Benoa Bali itu, seperti trauma mengingat kejadian itu. Kejadian yang menjadikannya tersangka kasus pembunuhan berencana dan perampasan kapal dengan ancaman hukuman seumur hidup atau selama-lamanya dua puluh tahun penjara. Ancaman hukuman serupa juga dikenakan pada empat rekannya sesama ABK, yakni Masudi alias Basir, Bambang Wendi Bin Sanudi, Dwi Agus Gunadi, dan Supriyanto alias Nur (masih buron).

Mimpi buruk Yoyok dan rekan-rekannya, merupakan buah dari kejahatan yang dilakukannya. Kejadian tersebut bermula ketika Yoyok bersama sembilan orang temannya sesama ABK dan seorang nahkoda, berangkat untuk mencari ikan dari Pelabuhan Benoa Bali dengan Kapal Motor Sanjaya 08. Kapal milik PT. Sentral Benoa Utama itu, memang rutin melakukan pencarian ikan tuna untuk diekspor. Ketika berangkat pada tanggal 16 Desember 2006 menuju fishing ground, terdapat 11 orang nahkoda dan ABK yang tercatat ikut serta dalam pelayaran. Diantaranya Bantan alias Hazim (nahkoda), Hariyanto Luis, Gusti, Syamsul, Dwi Agus Gunadi, Markus Kang Buaya, Herman, Bambang Wihandi bin Sunadi, Supriyanto, M Nur Khosim, Sudiharto, Supratno, Ahmad Rohman, Masudi, dan Nurno Supriyanto alias Nur.


Setelah dua bulan lebih di lautan, pada 28 Februari 2007 pihak PT. Sentral Benoa Utama tiba-tiba kehilangan kontak dengan kapal berkekuatan 138 gross ton dengan mesin Nissan 370 pk tersebut. Pihak perusahaan lantas melaporkan kehilangan itu pada petugas Polair Polda Bali pada 2 Maret 2007 dengan surat bernomor 19/P/SBU/III/2007. Mendapat laporan kehilangan, Direktur Polair Polda Bali, AKBP Oka Eswara Chandrana, langsung menghubungi tentang kehilangan ini pada semua Polair di Indonesia. Namun, hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan Kapal Sanjaya 08 beserta awaknya. Baru pada 14 Maret 2007, Polair Polda Bali mendapat sebuah telex dari Marine Police Provinsi Phuket Thailand yang mengabarkan temuan satu unit kapal motor dengan dokumen dan ciri-ciri fisik yang tidak sama. Rupanya, ketika merapat di Thailand, KM Sanjaya 08 sudah berganti nama menjadi Medan Jaya Jakarta. Nahkodanya yang dalam dokumen bernama Bantan, pun tak ditemukan di dalam kapal. Cat kapal yang semula biru kombinasi merah, menjadi didominasi warna merah. Kecurigaan Marine Police Phuket Thailand yang awalnya hanya menangkap kapal karena melewati perbatasan ngara tanpa izin, makin besar ketika hanya ditemukan 11 orang ABK dari 15 orang yang tercatat. Empat nama, masing-masing Bantan (nahkoda), Syamsul, Markus Kang Buaya, dan Nurno Supriyanto, hilang. Dari sana, teka teki hilangnya KM sanjaya 08 mulai terkuak. “Saya langsung minta pemilik kapal untuk melihat langsung kondisi kapal di Thailand. Untuk memastikan apakah itu benar kapal mereka atau tidak,” seru Oka Eswara. Dari sana dipastikan, KM Medan Jaya Jakarta memang adalah KM Sanjaya 08.

Komunikasi langsung dijalin Polair Polda Bali dengan Marine Police Provinsi Phuket Thailand. Hasilnya, kepolisian air di Phuket Thailand itu membantu mendeportasi ke kesebelas ABK ke Indonesia. Kamis sore pekan lalu, pesawat Malaysia Airways yang membawa mereka, mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Ia langsung dijemput Dir Polair Polda Bali beserta tim penyidik Polair dengan truk polisi. Penyidikan pun dilaksanakan secara estafet terhadap kesebelas ABK tersebut. Dari sana terungkap, KM Sanjaya 08 telah dirampas dan akan dijual di Thailand.

Awalnya, Polair menduga keempat orang yang hilang di dalam kapal, telah dibunuh oleh kesebelas ABK. Namun penyidikan beberapa hari mengungkap kenyataan lain. Rupanya, hanya nahkoda kapal Bantan yang telah dibunuh di tengah laut. Ini diduga karena Bantan menyatakan tak setuju dengan rencana merampas kapal dan menjualnya di Thailand. Ketika itu, 27 Februari 2007, sekitar pukul 05.30 dinihari, nahkoda Bantan yang tengah tidur nyenyak dengan posisi tertelungkup dipukul dengan kampak oleh tersangka Bambang Wendi bin Sanusi. Supratno lantas menyusul dengan memberikan tiga tusukan pisau di pinggang kiri Bantan. Seketika itu juga, Bantan tewas. Bersama Dwi Agus Sunadi yang ketika itu bertugas mengambil alih kendali, Supratno dan Bambang lantas menggulung mayat Bantan dalam kasur, dan membuangnya di Perairan Aceh Selatan. Satu orang lainnya, bernama Masadi, bertugas menjagai ABK lain yang sedang tidur. Mereka ingin memastikan, ABK lain tidak melihat kejadian itu.

Ahmad Rohman, salah seorang ABK, secara tidak sengaja sempat melihat langsung kejadian tersebut. “Waktu itu saya sedang nggak bisa tidur. Jadi saya jalan-ajalan aja,” kenang Rohman saat ditemui di Polair Polda Bali. Gara-gara ketahuan melihat kejadian itu, Masadi menyiramkan air panas ke punggung Rohman. “Waktu itu diancam. Nggak berani dah kalau pas di tengah laut begitu,” terangnya.

Paska pembunuhan itu, mereka langsung mengalihkan perjalanan menuju Thailand untuk menjual kapal beserta hasil tangkapan ikannya. Ketika itu pula, kontak dengan PT. Sentral Benoa Utama terputus. Salah seorang ABK lain, Nur Khosim, sempat mengaku heran ketika arah kapal tidak sesuai rencana. Selain itu, ketika pangun pagi itu ia juga tak melihat keberadaan Bantan. “Saya sempat nanya-nanya. Tapi mereka (para tersangka) bilang nggak tahu,” ujar pria 21 tahun tersebut. Malah, Nurkhosim mendapat bentakan dari tersangka. “Katanya, nggak usah tanya-tanya,” ceritanya. Karena sadar tengah berada di tengah laut, Nurkhosim tidak berani lagi melakukan apa-apa. Juga beberapa rekan ABK lainnya. “Akhirnya kita ngikut aja. Suasananya sudah nggak enak. Semuanya diem-dieman. Nggak ada yang ngobrol-ngobrol kayak sebelumnya,” cerita Nurkhosim.

Ketika hendak merapat di Pelabuhan Phuket Thailand, Nurno Supriyanto yang diduga sebagai otak dari perampasan kapal dan pembunuhan tersebut, meminta izin untuk merapat duluan untuk menelepon. Diperkirakan, Nurno akan mencari pembeli kapal beserta tangkapan mereka. Saat turun dengan sampan, Nurno ditemani Syamsul, dan Markus Kang Buaya. Namun ketiganya tak pernah kembali ke kapal sampai Marine Police Phuket Thailand menangkap kapal atas tuduhan melanggar perbatasan. Nurno dan dua rekannya yang diperkirakan tidak tahu menahu dengan pembunuhan dan perampasan kapal, tidak berani kembali ke kapal paska penangkapan.

“Setelah ditangkap, kita sempat diperiksa di dalam kapal selama tiga hari. Setelah itu, menginap tiga hari di kantor polisi sana,” cerita Nurkhosim. Atas bantuan Konsulat RI di Thailand, kesebelas ABK akhirnya dideportasi ke Bali. “Kita nggak ikut-ikutan mbak. Kita juga diancam,” terang Nurkhosim, diiyakan enam rekannya yang lain. Tim penyidik yang dipimpin Kasi Bin Gakkum AKP I Gusti Ngurah Arbawa, hingga saat ini baru menetapkan lima tersangka. Diantaranya Nurno Supriyanto yang hingga kini menjadi DPO sebagai otak pelaku, Masudi sebagai pengawas ABK lainnya yang saat kejadian sedang tidur, Supratno dan Bambang Wendi sebagai algojo pembunuh Bantan, serta Dwi Agus Gunadi yang mengambil alih kendali kapal dan membantu membuang mayat Bantan ke Perairan Aceh. “Sampai saat ini, kami masih melakukan penyidikan secara lebih intensif. Ini belum hasil final,” ungkap Arbawa. Hingga kini, Polair masih mencari keberadaan Nurno dan dua ABK lainnya dengan bantuan polisi Thailand.

Nurkhosim, Rohman, dan beberapa rekannya, mengaku senang telah lepas dari ancaman para tersangka. Belasan hari berada di bawah ancaman di tengah lautan, bagi mereka bukanlah hal mudah untuk dihadapi. “Agak khawatir juga kalau mau melaut lagi. Tapi gimana lagi…,” ujar Nur Khosim sambil menerawang. Kondisi ekonomi yang pas-pasan, memaksa pria asal Jawa Timur ini untuk tetap melakukan pekerjaannya. [Komang Erviani]

Thursday, December 21, 2006

Menghambat Gerak Virus di Tubuh si Kecil

Virus HIV bergerak lebih gesit di tubuh anak-anak. Perawatan yang salah sering jadi pemicu merosotnya kondisi kesehatan mereka. Perlu perhatian lebih dari para orang dewasa.

Kakak beradik asal Busungbiu Buleleng, sebut saja Gede Mahendra (4,5 tahun) dan Kadek Rendra (2,5 tahun), tiba-tiba dinyatakan positif terinfeksi HIV pada pertengahan 2005 lalu. HIV diketahui telah merusak sistem kekebalan tubuh kedua bocah laki-laki itu. Berbagai jenis penyakit akut, mulai dari mal nutrisi, jamur pada kulit, hingga radang paru-paru, telah menggerogoti tubuh mungil mereka.

HIV (Human Immunodeficiency Syndrome) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Dalam jangka waktu tertentu, HIV dapat menyebabkan kumpulan gejala penyakit pada pengidapnya. Fase inilah yang disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penularan virus ini dapat terjadi melalui pertukaran beberapa cairan tubuh manusia, yakni darah, cairan kelamin, dan air susu ibu.

HIV yang hidup dalam darah Mahendra dan Rendra, diperkirakan berasal dari ibunya, sebut saja Luh Diah. Penularan bisa jadi melalui proses persalinan, atau air susu ibu (ASI). Luh Diah sendiri, dipastikan tertular dari suaminya yang tak lain ayah kedua bocah, sebut saja Komang Feri. Ayah kandung Feri, Wayan Parmita (53 tahun) menduga, Feri tertular HIV akibat kebiasaannya berganti-ganti pasangan semasa muda dulu.

Mahendra dan Rendra, tertular virus dari orang tuanya. Tetapi gejala-gejala akibat penularan virus itu, justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra. Sebaliknya, Feri dan Luh Diah baru merasakan gejala penyakit beberapa bulan setelah hasil tes Mahendra dan Rendra diterima. Sesuai dugaan awal, Feri dan Luh Diah dinyatakan positif HIV. Keduanya meninggal awal 2006 lalu akibat berbagai penyakit yang ditimbulkan gara-gara virus itu.

Gejala-gejala penyakit yang justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra dibandingkan kedua orang tuanya, mengaindikasikan kerja virus yang lebih cepat dalam tubuh anak-anak. Hal itu diakui Ketua Pokja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, Tuti Parwati. Menurut penemu kasus HIV/AIDS pertama di Bali itu menyebut, sel-sel tubuh anak yang lebih muda cenderung lebih cepat terpengaruh. Itu sebabnya, virus HIV menjadi cenderung lebih cepat menggerogoti tubuh anak-anak dibandingkan orang dewasa.

Hal senada diakui dokter spesialis anak, Ketut Dewi Kumara Wati. Kepala Divisi Alergi Immunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah itu menyebut, dalam kondisi normal pun tingkat kekebalan tubuh anak-anak cenderung lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Itu karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum cukup terlatih. “Kita orang dewasa, setiap hari kontak dengan virus, tidak sakit. Tapi pada anak-anak, kan cepat sekali sakit,” jelas dokter yang banyak merawat anak HIV positif sejak 2004 lalu.

Dua bulan lalu, Dewi juga menemukan infeksi HIV pada seorang bayi perempuan, sebut saja Tiara (10 bulan). Ketika ditemukan, Tiara telah mengalami diare kronis. Oleh orang tuanya, Tiara dikatakan telah mengalami diare sejak lahir. Berbagai rumah sakit telah dicoba untuk menyembuhkan, termasuk sebuah rumah sakit di Surabaya Jawa Timur.

Penyakit yang tak kunjung sembuh, mengundang kecurigaan adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh Tiara. Apalagi setelah uji lab atas kotorannya, ditemukan jamur-jamur yang tidak biasa menyerang anak-anak. Atas dasar itulah, Dewi melakukan pendalaman terhadap kedua orangtua Tiara. Hasilnya, orangtua Tiara mengaku pernah bersentuhan dengan aktivitas berisiko. “Ternyata ayahnya mengaku pernah ‘jajan’ dan make narkoba,” terang Dewi. Benar saja, hasil tes HIV menemukan ada HIV dalam darah Tiara. Pemeriksaan tambahan berupa tes virulogis, menemukan sudah ada 4,6 juta copy virus HIV dalam darah bayi mungil itu.

Baru beberapa waktu setelah itu, kedua orang tua Tiara menjalani tes HIV, dan hasilnya reaktif (positif). “Biasanya memang anaknya duluan yang ketahuan (positif HIV),” tambah Dewi.

Menurut catatan Yayasan Spiritia, ada tiga tipe anak-anak HIV positif jika dilihat dari reaksi virusnya. Ada ‘pelanjut cepat’ di mana anak yang terinfeksi agak dini pada kehamilan akan mengembangkan tanda dan gejala penyakit pada usia 1-2 tahun. Anak tersebut akan melaju ke fase AIDS, di mana mulai muncul gejala-gejala penyakit, dengan sangat cepat. Kadar CD4 (sel pembentuk sistem kekebalan tubuh) akan merosot menjadi di bawah 100 sebelum usia dua tahun. Pada orang normal, kadar CD4 seharusnya 500.

Tipe kedua adalah ‘pelanjut pelan’, di mana harapan hidupnya lebih baik. Anak-anak ini terinfeksi saat melahirkan atau proses penyusui. Anak-anak ini cenderung mengembangkan bukti kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pada usia 7-8 tahun. Kehilangan sel CD4 akan berlanjur berangsur-angsur. Terakhir, ada pula sekelompok anak dengan HIV positif yang akan tetap sehat dengan sedikit atau tanpa gejala penyakit dan kadar CD4 yang nyaris normal sampai usia anak 9 tahun.

Penelitian terhadap anak HIV positif di sejumlah negara maju menunjukkan, ketahanan hidup rata-rata mereka hanya 8-9 tahun. Ini berbeda dengan rentang waktu orang dewasa untuk mencapai fase AIDS sejak pertamakali terinfeksi yang bisa mencapai 10 tahun, bahkan lebih.

Selain Tiara, Dewi juga tengah merawat tiga anak positif HIV lainnya. Satu anak berusia 2,5 tahun, sebut saja Dian, diketahui terinfeksi setelah ditemukan dalam kondisi mal nutrisi yang parah. Bocah perempuan itu juga menderita asma. Setelah didalami, ternyata sang ibu telah meninggal dengan gejala-gejala mirip AIDS. Sementara sang ayah ternyata tengah menjalani terapi antiretroviral (ARV), terapi untuk menekan perkembangan virus HIV dalam darah bagi Odha.

Sementara dua anak lainnya, adalah saudara kembar berusia 11 bulan. Keduanya tergolong bayi dari ibu HIV/AIDS (BIHA), sebutan untuk bayi yang terlahir dari ibu HIV positif di mana perkembangannya memang telah dipantau secara medis sejak dalam kandungan. Anak dari pasangan petani di wilayah Bali Barat itu diketahui positif HIV setelah melalui tes PCR. Diduga, penularan berawal dari aktivitas seksual berisiko sang ayah yang pernah merantau di wilayah Denpasar sebagai buruh bangunan.

Penanganan kesehatan anak-anak HIV positif, bukan hal mudah. Dokter spesialis anak di RSU Singaraja, Ketut Ngurah Alit, menilai hal itu karena status HIV pada anak-anak itu umumnya baru diketahui setelah kondisi kesehatan mereka memburuk. Biasanya, kecurigaan adanya infeksi HIV baru muncul bila pertumbuhan anak tidak normal. Indikasinya beragam. Mulai dari sakit-sakitan, berat badan terus merosot, ada infeksi Infeksi jamur yang berulang, sampai radang paru-paru yang tidak sembuh-sembuh. “Akhirnya, waktu kita temukan kondisinya sudah tidak baik,” jelas dokter yang menangani Mahendra dan Rendra ini.

Merawat anak dengan HIV positif, memang gampang-gampang susah. Salah satu kuncinya sebenarnya sangat sederhana, yakni kondisi rumah dan lingkungannya. Higienitasnya lingkungan rumah harus betul-betul dijaga. Anak HIV harus dijauhkan dari kondisi - kondisi yang memudahkan dia sakit. Menurut Dewi, anak tanpa HIV sekali pun, sangat rentan dengan penyakit. “Menurut pakar, dengan kondisi yang bersih sekali pun, anak dengan HIV positif pasti akan sakit. Apalagi kalau kondisinya tidak bersih,” ungkap Dewi.

Bahkan kontak dengan orang lain yang membawa virus, walau tidak dalam kondisi sakit, bisa membuat anak HIV tertular virus. Itu terjadi pada Dian beberapa waktu lalu. Virus campak telah membuat kulitnya memerah sampai berhari-hari. “Biasanya orang kena campai bisa sembuh dalam seminggu. Tapi dia kena campak berulang-ulang, dan nggak sembuh-sembuh. Jadi nggak jelas dia dapat virusnya dari mana,” Dewi menjelaskan.

Tak cuma itu, menjaga asupan gizi juga sangat penting. “Dia harus memakan makanan yang kaya kalori, lengkap proteinnya,” ujar Dewi lagi. Asupan gizi tidak seimbang, banyak menjadi kendala pada penanganan anak dengan HIV positif. Itu pula yang dihadapi Ketut Ngurah Alit dalam menanangani Mahendra dan Rendra. Menurut Alit, pengetahuan yang kurang tentang asupan gizi seimbang, telah memicu menurunnya kualitas kesehatan mereka. Belum lagi masalah kemampuan ekonomi yang tidak bagus. “Itu sangat merusakkan anak-anak itu. Karena bagaimanapun, penyakitnya sendiri sudah bikin orang gizi buruk. Jadi kalau sudah makan, ya sudah. Entah apa yang dimakan, kita nggak tahu. Apa hanya ubi saja, atau dia dapat susu. Kita nggak tahu. Padahal untuk anak-anak HIV, gizi tinggi yang perlu,” terangnya. Perawatan yang tepat, menjadi kunci peningkatan kualitas hidup anak-anak dengan HIV positif. [Komang Erviani]

Sunday, October 08, 2006

Tes2.

Ini percobaan..